Melarang media sosial untuk anak di bawah 16 tahun? Inggris meluncurkan eksperimen berskala besar.
Australia telah mengambil langkah tersebut, sementara Prancis masih mempertimbangkan dan Inggris sedang melakukan uji coba. Kita tahu bahwa media sosial dapat menimbulkan masalah, terutama bagi kaum muda. Alih-alih membuat undang-undang secara membabi buta atau terus-menerus menyerah di bawah tekanan, pemerintah Inggris telah memilih pendekatan ilmiah. Mereka ingin menguji coba beberapa tingkat pembatasan pada remaja sungguhan di keluarga sungguhan selama enam minggu. Tujuannya adalah untuk mengukur apa yang dapat berubah.
300 remaja, 4 kelompok, dan 1 tujuan tunggal
Program ini, yang dipimpin oleh Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi (DSIT), merekrut 300 remaja berusia 13 hingga 17 tahun dari empat negara di Inggris Raya.
Mereka dibagi menjadi 4 kelompok dengan kondisi yang sangat berbeda.- Kelompok 1: larangan total pada aplikasi media sosial untuk mensimulasikan larangan nyata.
- Kelompok 2: maksimal satu jam per hari di TikTok, Snapchat, dan Instagram.
- Kelompok 3: akses diblokir antara pukul 21.00 dan 07.00, mirip dengan jam malam digital.
- Kelompok 4: tidak ada pembatasan yang direncanakan; ini adalah kelompok kontrol.
Keluarga akan diwawancarai di awal dan akhir uji coba.
Para peneliti akan mengukur dampaknya terhadap prestasi akademik, kualitas tidur, dan hubungan keluarga.Tekanan politik telah meningkat selama berbulan-bulan
Pada Januari 2026, House of Lords memberikan suara, bertentangan dengan saran pemerintah, untuk amandemen yang melarang media sosial bagi mereka yang berusia di bawah 16 tahun, dengan 261 suara mendukung dan 150 menentang. Selebriti seperti aktor Hugh Grant secara terbuka mendukung inisiatif tersebut. Pinterest juga mendukung dan menyerukan larangan bagi mereka yang berusia di bawah 16 tahun.
Perdana Menteri Keir Starmer menolak untuk mendukung amandemen tersebut tanpa data nyata tetapi menyatakan bahwa ia tidak mengesampingkan opsi apa pun. Konsultasi nasional, yang dibuka pada awal Maret, telah menerima hampir 30.000 tanggapan.
Pendaftaran ditutup pada 26 Mei. Tergantung pada hasilnya, keputusan pasti akan dibuat.Studi akademis yang menyertainya
Secara paralel, sebuah studi akademis, yang dipimpin oleh psikolog Universitas Cambridge Amy Orben bekerja sama dengan Bradford Institute for Health Research, sedang merekrut 4.000 siswa berusia 12 hingga 15 tahun di 10 sekolah di Bradford. Tujuannya adalah untuk mengukur efek pengurangan penggunaan media sosial dalam skala yang lebih besar.
Kedua inisiatif tersebut bertujuan untuk menghasilkan bukti yang cukup kuat untuk membenarkan (atau tidak) undang-undang nasional. Jangan lupa bahwa taruhannya sangat besar, yaitu larangan bagi mereka yang berusia di bawah 16 tahun. Hal itu akan mengganggu model bisnis Instagram, TikTok, dan Snapchat di salah satu pasar Eropa terbesar.
Kita harus menunggu hingga musim panas 2026 untuk melihat hasilnya. Bagaimanapun, Inggris Raya bisa menjadi negara besar Eropa pertama yang melarang media sosial untuk anak di bawah umur.
Studi ini akan menunjukkan kepada kita bahwa mungkin pembatasan akses saja sudah cukup.Silakan Login untuk meninggalkan komentar.
Ingin Memposting Topik Anda
Bergabunglah dengan komunitas pembuat konten global, monetisasikan konten Anda dengan mudah. Mulailah perjalanan penghasilan pasif Anda dengan Digbly hari ini!
Posting Sekarang
Komentar